:::: MENU ::::
  • PC GP ANSOR Kabupaten Kendal
  • Berkhidmah untuk Negeri

  • Mengaji, Mengader, dan Berkarya

Jumat, 06 Januari 2017

Museum Nahdlatul Ulama berdiri di pelataran seluas 3.000 meter persegi. Pagar besi kokoh mengelilinginya bangunan yang diresmikan tanggal 26 November 2004 itu.
Tepat di depan museum ini berdiri Graha Astranawa, kantor DPW PKB Jawa Timur. Uniknya, antara Graha Astranawa dan Museum NU mempunyai kemiripan dalam arsitekturnya. Yakni, mirip sebuah masjid mewah dengan kuba besar dan megah. 
Bedanya, bila Graha Astranawa didominasi warna hijau, baik di luar maupun di dalam gedung, Museum NU hanya bagian luarnya saja. Interior dalamnya didominasi warna cokelat muda. Bangunan seluas 900 meter persegi itu terbagi dalam tiga lantai dengan warna cat sama.

Sekretaris Tim Kerja Museum NU, Muhibbin Zuhry kepada Republika menjelaskan, arsitek Graha Astranawa dan Museum NU ini memang sama, yaitu Ir Fatchul Mujib dari Institut Tehnologi Surabaya (ITS). Sedangkan total biaya pembangunannya mencapai Rp 2 miliar lebih.
''Uang sebesar itu hasil murni sumbangan warga NU seluruh Indonesia, dan mayoritas anggota PKB,'' ujarnya menjelaskan. Ide pendiriannya datang dari tokoh NU Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan direalisasikan oleh Cak Anam (Ketua Tim Kerja Museum NU yang juga Ketua DPW PKB Jatim, Choirul Aman-red),'' tambah Muhibbin.
Menurut dia, tujuan utama mendirikan Museum NU antara lain upaya merangkul kembali warga nahdliyyin, terutama generasi muda, untuk mengembangkan dan mempelajari tradisi NU. Selain itu, juga sebagai pusat budaya NU yang menyimpan cipta, rasa, dan karsa orang-orang NU sendiri.
''Di sini tersimpan seluruh peninggalan fisik perjalanan sejarah NU,'' kata Muhibbin. Yang tak kalah menarik, tersimpan benda-benda bersejarah peninggalan tokoh-tokoh NU yang berkaitan dengan pendirian NU, dan perjuangan menegakkan berdirinya Republik Indonesia di museum ini.
Ketua Tim Kerja Museum NU, Choirul Anam, mengungkapkan, pendirian Museum NU memang difasilitasi DPW PKB Jatim. Namun, untuk sepenuhnya akan dikembalikan pada NU secara utuh. ''Ini bentuk kepedulian terhadap NU. Dalam museum itu nanti, juga akan dikelola kawan-kawan NU,'' tuturnya.
Cak Anam menjelaskan, beberapa peninggalan tokoh NU yang akan disimpan adalah tongkat yang digunakan Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy'ari, dan kitab-kitab keagamaan yang ditulisnya. ''Selama ini, tidak banyak orang tahu, Mbah Hasyim mempunyai karya-karya tulis kitab kuning. Hal itu sebagai bukti, bahwa tokoh pesantren dan pendiri NU mempunyai kemampuan intelektual yang memadai pada zamannya, dan ini patut diketahui warga nahdliyin saat ini,'' papar Cak Anam.
Tim Kerja Museum, sambungnya, juga menemukan sejumlah kitab klasik, seperti yang ditemukan di Trenggalek, kitab Ambyo atau Ambyak, yang berisi kisah-kisah Nabi dan ditulis pada abad ke-16, dan beberapa kitab lain. ''Mereka yang kini memelihara kita-kita itu, berkenan untuk menyerahkan kepada Museum NU,'' tegasnya.
Selain itu, kata dia, tersimpan juga benda peninggalan para ulama yang turut berperan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Misalnya, seragam KH Hasyim Latief dan KH Yusuf Hasyim saat perang revolusi juga akan disimpan di sana. Kedua tokoh NU yang masih bugar ini adalah anggota Laskah Hizbullah dan termasuk salah seorang tokoh NU. Terdapat juga benda-benda Kiai Hasyim Asy'ari, yang pernah dipenjara pada masa pendudukan Jepang, semasa sebagai pejuang.
Untuk melengkapi catatan sejarah, museum melengkapinya dengan foto-foto bekas-bekas penjara atau kamar tempat sang tokoh dipenjara.
Menurut Cak Anam, ketika dipenjara, Mbah Hasyim Asy'ari sempat dipukuli tentara Jepang hingga jari-jarinya remuk dan terputus. Mbah Hasyim juga meningalkan sebuah tongkat yang kini dirawat KH Yusuf Hasyim alias Pak Ud di Tebuireng. ''Fakta-fakta sejarah seperti ini harus diketahui umat nahdliyin,'' kata Cak Anam.
Selain tim kerja, tambah dia, ada juga tim penyelamat dokumentasi NU yang dilakukan tim di Kabupaten Gresik. Tim penyelamat dokumentasi itu juga dibentuk atas restu Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh. Data-data dokumen itu, kini sedang dikumpulkan dan segera diserahkan ke tim kerja Museum NU.
Berdasarkan data-data dari Sekretariat Museum NU, setiap bulan para pengunjung yang datang mencapai lebih dari 500 orang. Para pengunjung itu tidak dipungut biaya sepeserpun. Mereka hanya saja dianjurkan mengisi infak semampunya untuk operasional museum. Dalam satu bulan jumlah infak mencapai antara Rp 200 ribu hingga Rp 1 juta.



0 komentar:

Posting Komentar